blank

Lautan Manusia Sambut Kirab Panji dan Mahkota di Puncak Hari Jadi Sumedang ke-447

SUMEDANG – Ribuan warga tumpah ruah memadati Alun-alun Sumedang, Minggu (27/4/2025), menyaksikan puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumedang (HJS) ke-447. Kemeriahan perayaan ditandai dengan prosesi Kirab Panji dan Mahkota Kemaharajaan Sunda Karaton Sumedang Larang (KSL) yang berlangsung khidmat dan semarak, sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah kejayaan Kerajaan Sumedang Larang.

Prosesi kirab dimulai sekitar pukul 11.00 WIB. Kirab Panji, lambang kejayaan KSL, bergerak dari Kecamatan Darmaraja, melintasi wilayah Cisitu, Situraja, Ganeas, hingga Tegal Kalong di Kecamatan Sumedang Utara. Sementara itu, Mahkota Binokasih, pusaka agung warisan leluhur yang menjadi simbol legitimasi, telah tiba di Sumedang pada 22 April setelah menempuh perjalanan panjang dari Ciamis melalui Bogor sejak 19 April 2025.

Kedua pusaka ini bertemu di Tegal Kalong sebelum diarak bersama menuju Alun-alun Sumedang. Rombongan kirab yang dipimpin langsung oleh Radya Keraton Sumedang Larang, H.R.I Lukman Soemadisoeria (Sri Radya KSL), disambut antusias oleh lautan masyarakat di sepanjang rute. Tampak Sri Radya KSL menaiki Kereta Nagapaksi yang menambah kemegahan arak-arakan, diiringi berbagai kesenian khas Sumedang.

Di Alun-alun, rombongan disambut oleh Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati Sumedang, beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Turut hadir Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., Kapolres Sumedang AKBP Joko Dwi Harsono, S.I.K., M.Hum., Dandim 0610/Sumedang Letkol Kav Christian Gordon Rambu, M.Si. (Han.) yang mewakili Pangdam III/Siliwangi, para sultan dari keraton Cirebon, tokoh budaya, camat, kepala desa, dan ribuan masyarakat.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan kitab Waruga Jagat, doa lintas iman oleh K.H. Prof. Dr. Sukriyadi Sambas, pertunjukan tari klasik khas Sumedang, serta pementasan teaterikal singkat mengenai perjalanan Mahkota Binokasih Sanghyangpake.

Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, dalam sambutannya menekankan pentingnya peristiwa ini sebagai pengingat sejarah. “Ini sebuah peristiwa yang harus kita kenang. Sebab prosesi dulu ketika runtuhnya Pajajaran, Mahkota Binokasih diserahkan kepada Sumedang Larang dan Sumedang Larang penerus Pajajaran,” ujarnya.

Bupati Dony menambahkan bahwa warisan ini harus dilanjutkan tidak hanya dalam bentuk tradisi, tetapi juga dalam program pembangunan. “Kirab adalah napak tilas sekaligus isyarat bahwa kita tidak boleh tercabut dari akar. Kemajuan tanpa budaya adalah kehilangan arah. Pembangunan tanpa karakter adalah kemajuan semu,” tegasnya. Beliau mengajak masyarakat untuk membangun Sumedang dengan akal dan hati, teknologi dan tradisi, serta semangat gotong royong, seraya menjaga Panji Kebajikan, Ketulusan, Keadilan, dan Cinta Tanah Leluhur.

Lebih lanjut, Bupati berharap acara ini mempererat silaturahmi dan membangkitkan semangat filosofi Prabu Tadjimalela, “Insun Medal Insun Madangan” (Aku Lahir untuk Menerangi), agar warga Sumedang terus bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Senada dengan Bupati, Radya Anom KSL, Rd. Luky Djohari Soemawilaga, menyatakan, “Kirab ini bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan simbol kesetiaan kita kepada nilai-nilai luhur warisan para leluhur. Mahkota Binokasih bukan hanya pusaka, tetapi jati diri kita sebagai masyarakat Sumedang.”

Acara puncak HJS ke-447 yang berakhir sekitar pukul 14.00 WIB ini berlangsung aman, tertib, dan penuh semangat kebersamaan. Festival Budaya KSL ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dan kebanggaan akan sejarah terus hidup, tumbuh, dan mengakar kuat dalam denyut nadi masyarakat Sumedang.

Bergabunglah Bersama Kami !

Temukan inspirasi, tingkatkan kemampuan, dan jalin silaturahmi dengan sesama fotografer dari hunting foto seru, workshop eksklusif, hingga pameran bersama. Yuk, bergabung sekarang dan jadilah bagian dari komunitas kreatif ini!

blank