Bandung, 29 November 2025 — Bertepatan dengan rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan, Komunitas Semut Foto (KSF) mendapatkan kesempatan istimewa untuk mendokumentasikan rangkaian upacara di Pura Vira Chandra Dharma, yang berlokasi di kawasan Secapa AD Bandung. Kegiatan ini menjadi agenda fotografi budaya yang sarat makna, sekaligus mengenal filosofi dari Hari raya Galungan.
Toleransi Nyata: Pura dan Gereja Berdampingan
Pura Vira Chandra Dharma berdiri berdampingan dengan Gereja Persekutuan Oikoumene Umat Kristen, menunjukkan harmoni dan toleransi yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Pada momen hari raya ini, suasana damai dan rukun ini terasa semakin kuat.
Rangkaian Kegiatan Upacara Galungan
Prosesi Kegiatan menyambut Hari Raya Galungan dimulai dengan persiapan pada tanggal 16 dan 18, Hari Raya Galungan pada tanggal 19, dan Hari Raya Kuningan pada 29 November 2025. Rangkaian upacara ini merupakan simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan), serta menjadi saat bagi umat Hindu untuk menyambut kehadiran leluhur melalui doa dan persembahan.
Upacara dipimpin oleh pemangku, yang memandu jalannya sembahyang dengan teratur dan penuh khidmat.
Urutan Sembahyang Umat Hindu
Peserta KSF mendokumentasikan seluruh tahapan sembahyang, meliputi:
- Pecaruan / Prayascita
- Puja Dupa
- Sembah dengan bunga
- Sembah tanpa bunga
- Tri Sandhya / Gayatri
- Nganteb banten
- Mengambil tirta
- Pamuput
Tahapan dilakukan dengan tertib oleh umat yang hadir.
Hampir 100 Umat Hadir dalam Prosesi Galungan
Pada puncak perayaan, hampir 100 umat Hindu menghadiri upacara di Pura Vira Chandra Dharma. Suasana pura dipenuhi warna-warni busana adat, harum dupa, serta rangkaian banten yang tertata rapi, menciptakan momen spiritual yang kuat dan indah untuk diabadikan.
20 Fotografer Ikut Mendokumentasikan Prosesi
Hampir 20 fotografer dari Komunitas Semut Foto berpartisipasi dalam kegiatan ini. Sebelum memasuki pura, seluruh fotografer mengenakan ikat selendang dan diminta untuk melepas alas kaki ketika memasuki pura sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian tempat ibadah.
Selama prosesi, para fotografer menerapkan etika fotografi: menjaga jarak, tidak menggunakan flash, serta menyesuaikan posisi agar tidak mengganggu umat yang sedang bersembahyang. Momen-momen sakral seperti pengambilan tirta, pemujaan, dan suasana pura menjadi fokus utama dokumentasi.
Sesi Foto Santai Setelah Upacara
Usai sembahyang, umat Hindu dan peserta KSF melanjutkan dengan sesi santai. Beberapa umat bersedia berfoto membawa banten (sembahan) sebagai properti, menciptakan potret budaya yang menarik dan bernilai dokumenter.
Momen ini memperkuat hubungan antara komunitas fotografer dan masyarakat, sekaligus menjadi pengingat bahwa fotografi dapat menjadi medium pelestarian tradisi.
Makna Galungan dalam Tradisi Hindu
Galungan dirayakan setiap 210 hari berdasarkan kalender Pawukon. Perayaan ini telah berlangsung sejak tahun Saka 804 (882 M) dan diperkaya dengan berbagai tradisi seperti pemasangan penjor.
Makna utamanya adalah kemenangan Dharma, pengendalian diri, serta penghormatan pada leluhur.
KSF dan Komitmen Pelestarian Budaya
Melalui dokumentasi perayaan Galungan dan Kuningan 2025 ini, Komunitas Semut Foto menegaskan komitmennya untuk melestarikan budaya Nusantara melalui fotografi. Hasil dokumentasi ini akan menjadi arsip penting bagi komunitas maupun masyarakat yang ingin mengenal tradisi Hindu lebih dekat.
Ingin mengikuti kegiatan seperti ini ? Yuk gabung bersama KSF di 0858-6038-9188
Dokumentasi Kegiatan









